CERPEN: Dunia Paralel Dzi oleh M.Z. Billal
Dunia Paralel Dzi
Oleh M.Z. Billal
Setiap pagi ia harus menyaksikan dirinya menjadi orang asing
di dalam rumahnya sendiri. Bahkan semakin asing saat ia mulai merasa memori di
dalam kepalanya berguguran seperti daun-daun angsana di halaman.
Namun ia sama sekali tidak amnesia atau
mengalami penurunan daya ingat. Ia menyadari segala hal tapi ia masih belum
bisa menerima kenyataan itu. Sebuah kenyataan pahit yang telah dihadapinya
selama ratusan hari dan barangkali akan berlanjut hingga ribuan hari ke depan,
atau bisa saja sampai ia mati. Sebuah kenyataan yang menegaskan bahwa ia muak
dan benci pada perpisahan. Bahwa ia sesunggunya sangat rindu kebersamaan yang
utuh dalam sebuah keluarga. Ia rindu ayah dan ibunya duduk bersama dan membicarakan
tentang masa depannya sebagai anak semata wayang, di dalam rumah yang
seharusnya bisa jadi tempat mengawetkan kenangan. Tapi ia tak bisa berbuat
apa-apa untuk mewujudkan kerinduannya tersebut. Hingga pada akhirnya, kenyataan
itu pun telah membuat ia mencintai kesepian
serta terbiasa untuk menjalani hari-hari dan melakukan banyak hal seorang diri,
meski di luar ia memiliki beberapa teman baik yang bisa mengerti situasinya.
Sama seperti pagi ini, ia keluar dari
kamar setelah semua dirasa beres sambil mencangklong tas dengan bahu kanannya dan
menutup kepalanya dengan tudung sweater.
Lalu ia melihat ke pintu kamar ibunya yang masih terkunci sesaat seraya
menghela napas. Suatu kebiasaan menyebalkan namun tetap dilakukannya. Dimana ia
sadar bahwa ibunya belum akan bangun dari tidurnya sebelum pukul sepuluh,
sementara ia berharap bisa pergi ke kampus dengan berpamitan dan menikmati menu
sarapan pagi buatannya terlebih dahulu. Sebuah harapan bodoh yang diinginkannya
sejak pekan pertama perceraian ayah dan ibunya ratusan hari yang silam. Harapan
yang selalu berakhir dengan kekecewaan. Karena ibunya kini adalah tupai
nokturnal di sebuah bar pusat kota dan ayahnya adalah bison tersesat yang entah
di mana keberadaannya. Dua penjelmaan yang kecil kemungkinan untuk disatukan
kembali. Dan ia menyadari betul hal itu.
Maka tanpa perlu menunggu, ia bergegas
ke ruang belakang dan menaiki sepeda gunungnya. Sejak ia menjadi mahasiswa dan
keluarganya berantakan, ia tak lagi tertarik atau merasa iri pada anak-anak
muda lain yang terus merengek minta dibelikan kendaraan bermesin pada orang
tuanya. Ia memilih hidup bebas, kemanapun ia pergi dengan mengayuh sepeda hadiah
ulang tahunnya yang ke-15 itu. Ke kampus, ke taman, ke bioskop, ke perpustakaan
kota, atau kumpul bersama teman-temannya. Tanpa sedikit pun merasa minder. Karena
baginya dengan terus bergerak bersama sepedanya ia bisa merasakan hal-hal
menggairahkan memompa semangatnya. Dan sebelum akhirnya ia benar-benar
berangkat, ia mengecek pesan singkat yang tiba-tiba masuk di ponsel dan
meng-oke-kannya sebagai balasan. Sebuah pesan dari temannya yang sekadar
mengingatkan, bahwa usai jam kuliah ia harus menemui mereka untuk membicarakan
rencana mendaki gunung.
Kadang, dalam perjalanan menuju kampus,
ia berpikir tidak benar-benar ke kampus. Ia ingin menyimpang dan mencoba hal
baru. Meninggalkan segala rutinitas yang selalu ia jalani setiap hari. Melupakan
tentang ibu, ayah, teman-teman, dan kuliahnya. Pergi yang jauh, bila perlu ke
pulau yang tak pernah dijamah manusia. Sebab rasa jenuh kadang terlalu sesak
memenuhi dada dan kepalanya. Rasanya ia ingin menumpahkan segala kekesalan dan
rasa muak itu dengan menghancurkan segala yang terlihat. Barangkali itu bisa
meredakan himpitan perasaannya. Dan persis saat ia merasa puas oleh khayalannya
sendiri, seraya tersenyum licik, mendadak ia merasakan sebuah perubahan yang
aneh pada suasana pagi yang cerah.
Tiba-tiba saja ia mendengar sebuah
ledakan kuat dan desing senapan yang tak sudah-sudah. Membuat kota yang semula tenang
menyambut pagi menjadi kacau balau. Orang-orang berlarian, kendaran-kendaraan
berhenti mendadak hingga mengakibatkan tabrakan beruntun disertai
teriakan-teriakan dan disusul raungan sirene mobil polisi. Semua kekacauan
terjadi begitu saja, seakan hari ini telah terjadi serangan alien dari planet
jauh yang ingin menguasai kota.
Ada apa ini? Ia merasa heran sendiri seraya
mengayuh sepedanya lebih cepat menuju sumber kekacauan dan menangkap tiap-tiap
wajah panik dengan kedua matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Sekali lagi ia
bertanya pada diri sendiri.
Dan setelah ia tiba di bundaran kota
yang bersimpang empat, masih menyaksikan orang-orang berlari cepat menjauh menembus
kepulan asap berwarna merah, barulah ia tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Bahwa kota baru saja mendapat serangan dari seseorang berjaket tudung yang
terus melancarkan aksinya. Melemparkan peledak dan menembaki apa saja secara
acak lalu kabur dengan menunggangi sepeda gunung secepat mungkin hingga polisi
kesulitan melacak keberadaannya.
Ia tidak tahu siapa orang itu dan belum
mendapat jawaban penyebab kekacauan ini terjadi. Karena ia masih terjebak dan
bingung di antara orang-orang panik. Beberapa mobil dan sepeda motor polisi pun
dikerahkan untuk mengejar orang itu. Hingga dalam waktu yang tak terduga dan
mengejutkan semua orang yang ada di situ, termasuk dirinya, saat seorang wanita
berseragam kantor menjerit-jerit histeris seraya menunjuk ke arahnya.
Berkali-kali.
“Itu orangnya! Itu orangnya! Polisi,
tolong cepat tangkap dia!” teriak
perempuan itu sambil berlari menjauh.
Sontak para polisi yang masih berada di
sekitar bundaran langsung berbalik arah dan menatapnya. Terlihat ekspresi kaget
dan rasa tidak percaya di wajah mereka saat melihat dirinya telah berdiri
dengan sepeda gunung di belakang mereka. Sementara hatinya dipenuhi rasa
bingung dan ketakutan. Apa maksud perempuan itu mengatakan bahwa ia adalah
orangnya. Bukankah pelakunya berlari ke arah yang berbeda.
Buru-buru ia mengambil ponsel dari
dalam tasnya. Menekan-nekan nomor yang diingatnya. Nomor ibu dan salah seorang
teman dekatnya yang bernama Alif. Tapi tak ada yang tersambung. Justru operator
di dalam ponsel menjawab aneh panggilannya dengan mengatakan bahwa nomor yang
ia panggil tidak terdaftar. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Ia hanya
bisa mencoba bersikap tenang saat semua polisi di situ mengangkat pistol dan
mengarahkan tepat padanya.
“Turun dari sepedamu dan kita bisa membicarakan
semua ini!” teriak salah seorang polisi bertubuh besar dan kekar.
Ia tidak mengerti maksud perintah
polisi tersebut. Yang ia sadari kemudian adalah tiba-tiba wajahnya muncul di
layar plasma besar di salah satu simpang bundaran dan nama lengkapnya tertulis
di sana sebagai pelaku.
“Cepatl laksanakan! Mari kita
selesaikan ini dengan baik-baik!” Sekali lagi polisi itu berseru.
Ia sebetulnya ingin menuruti perintah
polisi tersebut. Terserah apa yang ingin
dilakukan polisi itu kepadanya. Karena pada dasarnya ia pun tak mengerti apa
yang terjadi. Namun baru saja ia hendak turun dari sepedanya, tiba-tiba
terdengar ledakan lagi dari sudut kota yang lain. Membuat para polisi itu
kehilangan fokus dan ia mengambil kesempatan tersebut untuk kabur. Mengayuh
sepedanya selaju mungkin. Menjauhi orang-orang yang berteriak saat berpapasan
dengannya. Berbelok ke jalan kecil. Tak peduli polisi di belakangnya
menembakkan pistol ke udara tanda peringatan.
***
Ia
memilih bersembunyi di bawah kolong jembatan kecil di antara semak belukar. Tak
tahu di mana. Sepedanya ia lempar ke semak-semak itu dan berusaha tenang dengan
tidak membuat suara sekecil apapun meski ia sangat ketakutan. Sampai kemudian
ia kembali dikagetkan oleh kehadiran seseorang yang berjalan menuju ke arahnya
dengan terburu-buru. Seperti mencari tempat persembunyian juga.
“Siapa
kau?” ia memberanikan diri bertanya pada orang berjaket tudung itu sambil meraih
sebuah batu kerakal di kakinya.
Saat
orang itu telah berdiri di hadapannya. Tanpa basa-basi orang itu justru
mengarahkan pistol kepadanya. Wajahnya tampak kaget.
“Justru
aku yang ingin bertanya, siapa dirimu!”
Sesaat
ia berpikir untuk melempar batu yang ia pegang tepat ke wajah orang itu. Namun
ketika ia melihat wajah dan keseluruhan fisik orang itu dari dekat, ia pun ikut
terkejut, tidak percaya, dan spontan menjatuhkan batu yang ia kepal. Lelaki berjaket
tudung itu sangat mirip dengan dirinya. Bahkan tak ada perbedaan kecuali
pakaian yang ia dan orang itu kenakan.
“Bagaimana
mungkin?” ujar lelaki itu seraya menguatkan pegangan psitolnya. “Siapa kau
sebenarnya?”
“Aku
tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ia membalas lelaki yang persis dirinya
itu dengan nada kesal. “Namaku Dzi. Aku sudah tinggal lama di kota yang damai
ini. Meski tidak banyak orang yang mengenalku dan kehidupanku sendiri
berantakan. Lalu siapa kau? Kenapa kau mirip denganku dan tiba-tiba mengacaukan
kota dengan menjadi aku?”
Lelaki
itu mendengus dan siap-siap menarik pelatuk. “Tidak mungkin ada dua orang
bernama Dzi yang mirip seperti ini! Katakan, dari mana kau berasal?”
“Seharusnya
aku yang bertanya!” Ia balas teriak. “Aku tidak peduli pada duniamu. Pergilah!
Hidupku sudah kacau.”
Ia
merasa seperti orang gila saat berhadapan dengan seseorang yang begitu mirip dirinya.
Ia berpikir hari-harinya akan semakin kacau bila terus terjebak dalam situasi
yang aneh seperti ini.
Tiba-tiba ia begitu merindukan rumah. Bertemu
ibu dan bersembunyi dalam dekapannya. Tapi ia tak tahu harus melakukan apa.
Sebab barangkali ibunya pun menduga bahwa ia benar-benar orang asing yang
sebelumnya tak pernah tercipta di dunia ini.
“Baiklah, namaku Dzi.” Lelaki itu
berkata sembari menurunkan pistolnya. “Aku membenci kota ini dan segala isinya.
Aku berharap bisa menghancurkan semuanya.”
“Apa?” ujarnya kaget. “Apa kau sudah
gila? Menghancurkan semuanya dengan menjadi aku?”
“Aku pun tidak mengerti kenapa kau
berada di sini dan menjadi aku.” Ia meninggikan suaranya.
“Ini kotaku!”
“Ini kotaku juga!”
Semakin terlibat suasana saling
mengakui diri masing-masing, tiba-tiba ia mendengar suara tembakan membabi buta
yang di arahkan kepada mereka dari udara. Dari helikopter yang terbang di atas
mereka.
“Cepat lari!” seru lelaki yang mirip
dengannya itu.
Ia baru saja sepakat untuk kabur
bersama. Namun belum sempat ia menjangkau lompatan lelaki yang kian jauh itu,
ia merasa sesuatu yang panas menembus perut dan lengannya. Membuatnya kesakitan
dan pandangannya menjadi kabur lalu terhuyung dan kehilangan kesadaran.
***
Perlahan
ia membuka mata. Semuanya masih sangat buram. Rasa sakit menjalar di seluruh
bagian tubuhnya. Dan saat ia sudah mendapatkan pandangan utuh, ia tampak
terkejut saat melihat orang-orang yang ia kenal mengitari tempat tidurnya. Wajah
mereka tampak lega. Namun seorang wanita, ibunya, bersimbah air mata duduk di
sampingnya seraya bahunya dipegangi oleh seorang pria yang tak lain adalah
ayahnya sendiri, didampingi dua pria berseragam polisi.
“Dzi….”
Lirihnya. “ Akhirnya kau kembali, Nak.”
Ia
masih belum bisa memahami keadaan di sekitarnya. Sementara teman-temannya
melambaikan tangan dan memanggil namanya, memberi semangat.
“Dzi,”
ujar ibunya lagi. “Kami mencoba menemukanmu. Tiga bulan lamanya kau menghilang
sejak pagi itu. Dan tiba-tiba kau muncul. Menjadi orang yang mengacaukan seisi
kota. Beruntung tidak ada korban jiwa. Kami tahu, ini adalah kesalahan kami.
Tolong maafkan kami. Kita akan memulai hidup dari awal lagi.” Isak ibunya.
Ia
masih berusaha memahami dimana saat ini ia berada dan sebab-sebab ia terbaring.
Namun kepalanya masih terasa sakit dan seseorang terus menghuni pikirannya.
Seseorang yang juga bernama Dzi. Dirinya yang lain.
***

Komentar
Posting Komentar